Senin, 25 Mei 2015

The Broken Journey - Part 4


Lanjutan cerita dari Mega Fradina (@fradinaclo) di blog sweetwinterclo.blogspot.com


Aku Takut

Gelap dan dingin sekali di hutan ini. Tidak tahu kapan kami akan ditemukan. Apakah ada orang yang mencari kami? Aku rindu rumah dan segala kehangatan yang ada di sana. Aku rindu Ayah dan Ibu, bahkan juga Molly, kucing peliharaanku. Apakah ia tak lupa diberi makan? Tetapi, yang paling penting sekarang adalah mencemaskan keadaan kami yang tersesat dan kondisi Kak Mila.

     
     Kakakku tengah tertidur pulas di dalam tenda. Wajahnya juga terlihat letih. Aku tahu, dia paling tidak suka merepotkan orang lain. Namun itu terkadang membuatnya jadi keras kepala dan justru makin menyulitkan keadaan.

     Aku juga prihatin melihat Kak Hanif. Wajahnya muram, memikirkan kami yang sampai hari ini masih tersesat. Kantong matanya menghitam akibat kurang tidur. Sudah dua hari berlalu, kami berharap ada pertolongan.

     Kak Rama sedang mengutak-atik ponselnya. Semua ponsel kami tidak berguna karena tak ada sinyal sama sekali. Punya Kak Mila bahkan habis baterenya. Kuhampiri Kak Hanif yang duduk di depan tendanya, sedang memperhatikan peta. Katanya, kompasnya terjatuh entah di mana. Ia menoleh, agak terkejut melihatku datang. 

     "Sekar, ada apa? Gimana kakakmu? Sudah baikan?" Ia bergeser, memberiku tempat untuk duduk.

     "Kakinya tambah bengkak, Kak. Kayaknya makin parah, deh," jawabku sedih. "Semoga besok kita sudah bisa turun gunung, ya Kak."

     "Iya, semoga." Kak Hanif mengangguk. "Pasti akan ada yang mencari kita." Ia pasti tidak mau aku putus asa. Tetapi nada suaranya terdengar seperti orang yang pasrah. Mungkin karena ia sudah amat letih selama dua hari ini.

     "Kak, makan dulu biskuitnya." Aku menunjuk kepingan biskuit di atas piring plastik di depannya. Setahuku, Kak Hanif belum makan sama sekali sejak tadi siang. Biskuit yang dibagikan Kak Mega belum disentuh sama sekali. 

     Ia menggeleng. "Buat kamu aja, Kar. Kakak nggak lapar."

     “Nggak boleh gitu. Kakak harus makan supaya punya tenaga,” ujarku. Kugeser piring plastik itu ke arahnya.

     Kak Hanif tersenyum kecil dan mengangguk. “Baiklah. Tapi nanti, ya."

     “Oke. Kalau gitu, Sekar tinggal dulu ya. Sekar mau ngobrol sama Kak Mega."

     Kutinggalkan Kak Hanif sendirian. Lalu, kuhampiri Kak Mega yang sedang duduk di dekat api unggun yang dibuat Kak Rama. Ia sedang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya supaya terasa hangat.

     “Hai, Dek,” sapanya.

     Aku duduk di samping Kak Mega. "Aku khawatir sama Kak Mila, Kak. Kakinya semakin bengkak gara-gara dipaksakan berjalan tadi siang," keluhku.
 

     “Nggak usah cemas. Kak Mila pasti kuat. Sebentar lagi kita pulang, kok,” hiburnya sambil menepuk-nepuk pundakku. Semua orang sepertinya berusaha menenangkan aku. Mungkin, karena aku paling muda. Aku masih kelas tiga SMP, sedangkan mereka semua yang sudah kuliah.

     "Tadi Kak Rama mau pergi cari pertolongan, kan?" tanyaku.

     Air muka Kak Mega mendadak berubah ketika kusebut nama Kak Rama. Aku tidak tahu ada apa di antara mereka. Seringkali kupergoki mereka diam-diam saling memperhatikan. 

     Tiba-tiba, kudengar gemerisik semak di belakang Kak Hanif. Kulihat sepasang mata kuning menyala di antara semak belukar itu. Kak Rama dan Kak Hanif secepat kilat bangkit. Mereka menyambar kayu dari api unggun dan mulai berteriak-teriak.
 

     Kak Mega berlari, masuk ke dalam tenda untuk membangunkan Kak Mila. Sementara Kak Rama dan Kak Hanif mencoba mengusir hewan apa pun itu yang menggeram dalam kegelapan, dengan obor yang mereka pegang.

     “Macan! Itu macan!” Aku mendengar teriakan Kak Hanif. “Terus takut-takuti dengan api!”

     Di tengah teriakan panik mereka, aku berlari ke dalam hutan.

     Semuanya gelap. Aku berada jauh di dalam hutan. Duduk meringkuk kedinginan, di bawah sebatang pohon besar. Terhalang semak-semak. Berharap pertolongan segera datang. Dinginnya angin malam makin menusuk tulang.

     Ibu, aku takut…


...........


Ditulis untuk lomba Menulis Berantai Love Cycle GagasMedia
Simak kelanjutan ceritanya oleh Ramayoga (@ramadepp) di blog www.klikrama.com


Kamis, 23 April 2015

[REVIEW] Bonus Track by Koshigaya Osamu




  • Judul: Bonus Track
  • Genre: drama, fantasy, comedy
  • Kategori: fiksi, novel dewasa muda, novel terjemahan Jepang
  • Penulis: Koshigaya Osamu
  • Ukuran:14x20 cm
  • Tebal:380 halaman
  • Harga: Rp. 65.000
  • Terbit: November 2014

***
Aku sendiri pun terkejut. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi hantu dan bergentayangan.
Kusano Tetsuya bekerja di sebuah restoran hamburger besar di kotanya. Suatu malam, saat ia pulang kerja sambil mengendarai mobilnya, ia menjadi saksi tabrak lari. Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kencang, meninggalkan seorang pemuda bertubuh kecil tergeletak di jalanan di tengah hujan.
Kusano mencoba untuk menolong pemuda itu, bahkan sampai memberikan napas buatan. Namun semua sudah terlambat. Semalam suntuk ia harus memberikan pernyataan di kantor polisi.
Gara-gara itu, Kusano demam tinggi dan bahkan berhalusinasi. Pemuda korban tabrak lari itu muncul di kamarnya, tidur-tiduran di atas sofanya, dan bahkan berbuat usil!
Tapi, apa itu benar-benar hanya halusinasi? Halusinasi itu sendiri sih mengaku kalau ia adalah hantu….
Kadang bonus track itu sendiri malah lebih baik dibandingkan dengan keseluruhan album.

***

Satu kata buat novel ini; AMAZING!

Walaupun dari covernya kurang menarik perhatianku, tapi untuk warnanya aku suka! Merah kalem. Enggak terlalu mencolok lah. Ada gambar si hantu; Ryota. Novel-novel Penerbit Haru covernya memang selalu keren. J
Kelebihan novel ini sih banyak. Terselip unsur komedi yang bikin senyum-senyum sendiri. Aku suka banget tokoh Ryota! Entahlah, bisa sreg banget sama tokoh ini. Salah satu dialog favoriteku:

“Aku melanjutkan kegembiraan ini setelah berganti naik jalur kereta lokal selanjutnya. Ketika aku turun dan berdiri di stasiun kampung halaman, entah kenapa aku merasa sudah mendapatkan kemenangan. Padahal aku belum meraih prestasi apa pun. Aku hanya ditabrak mobil.” (hal. 161)

Novel ini mengisahkan tentang Kusano Tetsuya, pegawai di restoran hamburger yang pada suatu malam menjadi saksi tabrak lari. Mayat pemuda itu tergeletak di tengah jalan. Namun, apa yang terjadi setelahnya? Hantu tabrak lari itu justru membuntuti Kusano kemanapun ia pergi. Bahkan hantu itu tak sadar kalau ia sudah mati. Huh! Dasar hantu konyol!

Interaksi antara Kusano & Ryota pun sangat lucu. Mereka awalnya bertemu dengan tak sengaja dan mulai hidup bersama. Walaupun mereka berbeda alam, mereka seolah saling melengkapi. Sejak itu, hidup Kusano berubah 180o.  Intinya, novel ini mengangkat kisah hidup sehari-hari yang diselipi oleh unsur komedi.
Alur ceritanya terkesan sedikit agak lambat. Ada beberapa adegan yang terulang dua kali namun dari dua sudut pandang yang berbeda. Tapi dari pertengahan, sudut pandang keduanya sudah menyatu, sehingga satu kejadian tidak lagi diceritakan dua kali.  But overall, semuanya oke.
Aku rekomendasiin novel ini buat para pembaca J-Lit yang pengen baca J-Lit yang gak melulu soal percintaan. CCCC

Review ini diikutkan untuk Tantangan Membaca Haru 


Minggu, 19 April 2015

Gugup Bikin Malu!

"Nomer absen empat, Anas Tasya Sekartaji."

Deg! Namaku dipanggil. Huh. Nerveous makin melanda dan terus menyelimuti dada ini. Kutarik nafas panjang, kuhembuskan perlahan. Dengan langkah setengah mantap, kumasuki ruangan itu dengan sejuta rasa berkecamuk di dada. Oh, Tuhan, lancarkanlah.

"Ya, silahkan dimulai nyanyinya," ujar guruku--yang notabene adalah tim penilai-- mempersilahkanku untuk segera bernyanyi. Nerveous kembali melandaku. Ya Tuhan ...

Di hadapanku sekarang, ada 15 murid-murid yang siap menonton pertunjukanku--anggap saja begitu-- mereka adik-adik kelasku. Sungguh, walaupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari, nerveous ini tetap menyelimuti diriku.

Kupejamkan mata sesaat, lalu mengambil nafas dan menghembuskanya untuk menghilangkan rasa nerveous. Saat kurasa diriku mulai tenang, aku mulai buka suara dan mulai bernyanyi,

"Apakah sebenarnya,
Terbuku di kalbumu
Apakah arti linang air mata di pipimu?
Ucapkanlah padaku
Tak bisa kurungkainya
Rahasia yang kau pendam itu ..."

Saat menjelang reff, nafasku tercekat. Oh, tidak! Nafasku tak sampai dan suaraku pun mendadak goyah. Aku pun spontan berhenti benyanyi.

Semua yang menyaksikan pun sontak tertawa. Wajahku bersemu merah, namun agak tertutupi dengan jilbab yang kupakai.


"Nyanyinya diulangi lagi dari awal, nadanya agak direndahin sedikit," ujar guruku memberikan arahan. Aku mengangguk dan mulai bernyanyi dari awal. Namun ketika sampai di pertangahan lagu, nafasku tercekat lagi. Dan nampaknya, untuk kedua kalinya hal memalukan itu terjadi.

"Namun ku percaya
Takkan terlerai kasih
Ikatan ini takkan putus ..." (Siti Nurhaliza-Air Mata Ibu)

Kusudahi nyanyianku. Lantas memberi hormat pada semua lalu bergegas keluar dari ruangan itu. Banyak temanku yang menyaksikan pertunjukanku barusan melalui jendela. Sesampainya di luar ruangan, semua memandangiku dengan pandangan seperti ... Mencemooh mungkin?

"Kok suaramu bisa begitu, Nas? Tadi pas latihan di kelas bagus, lho!" ujar salah satu temanku seraya menghampiri. Aku tak tahu hendak berkata apa. Sangat memalukan!

"Aku salah memilih lagu ..." gumamku pelan. Huh!

"Mungkin karena nerveous, jadi pas sampai di dalam semuanya buyar dan suaramu jadi goyah, Nas." salah satu temanku berpendapat. Hmm ... Benar juga pendapatnya.

Segera kuambil tas ku lalu bergegas ke kantin. Entah kenapa perut ini terasa sangat lapar setelah ditertawakan banyak orang. Kuambil roti coklat lantas memakannya dengan bringas.

Akupun pulang ke rumah dengan sejuta perasaan aneh berkecamuk. Tak pernah aku ditertawakan seperti tadi. Huh! Menyebalkan!

'Melawan seribu musuh itu lebih mudah daripada kau melawan dirimu sendiri.'
----------------------------------

** ditulis berdasarkan kisahku siang tadi saat Ujian Praktek menyanyi. Pengalaman yang tak akan terlupakan! :D

Asal-Usul Kata “Pus” Ketika Memanggil Kucing





sumber: soktau.com




             Pasti kita sudah biasa memanggil kucing dengan sebutan “pus” dan biasanya si kucing pun menoleh, seolah menyadari panggilan kita. Namun, apakah sebenarnya yang ada dipikiran kucing ketika kita panggil dengan kata “pus”?
Kata “pus” berasal dari kata “pussy” yang artinya kucing. Sebenarnya, kucing sendiri tidak tahu mengapa dirinya dipanggildengan sebutan “pus” atau sejenisnya. Karena kita sudah terbiasa memanggil kucing dengan sebutan “pus”, maka si kucing akan mendatangi orang yang memanggilnya.

Kucing yang sejak lahir sampai dewasa tidak dipanggil “pus” tidak akan mendatangi yang memanggilnya “pus’. Biasanya, orang yang memanggil kucing dengan panggilan “pus” memiliki tujuan memberi makan. Dengan kebiasan orang yang memanggil 'pus' terus-menerus ketika memberi makan, maka kucing akan mengetahui bahwa suara 'pus' adalah makan. Makan adalah hal yang enak bagi kucing. Oleh karena itu, dengan memanggil 'pus' maka kucing akan merasa enak dan berharap akan realisasi dari rasa enak tersebut yaitu makan. Jadi, kucing yang datang ketika dipanggil 'pus' itu adalah kebiasaan.
Coba saja dibiasakan sejak kecil kucing dipanggil dengan sebutan “Joko” ataupun “Budi” ketika hendak makan, pasti ia akan mendatangi seseorang yang memanggilnya dengan kata “Joko” ataupun “Budi”. Jika sudah dibiasakan, maka si kucing akan maju ketika dipanggil walaupun tanpa makanan. Ya, semua karena kebiasaan.
Oleh karena itu, bagi yang ingin kucingnya datang ketika dipanggil namanya, harus dibiasakan memanggil namanya ketika diberikan makan. Kalau sudah terbiasa datang ketika dipanggil, maka coba tanpa makanan. Jika kucing datang, maka elus-eluslah dia supaya dia tetap merasa enak dan disayangi.

Minggu, 22 Maret 2015

Tantangan Membaca Haru



Nggak terasa, tahun ini Haru sudah berumur 4 tahun, lho!

Di tahun ke-4 ini, sampai bulan Januari 2015, Haru telah menerbitkan 50 judul buku (termasuk 2 judul dengan kaver baru). Ayo coba dihitung, berapa buku yang telah kalian baca?

Tahun ini, Haru punya sebuah program baru yang bernama ‘Tantangan Membaca Haru’!

Haru akan menantang kalian semua untuk membuktikan seberapa jauh kalian terkena #HaruSyndrome.

Waktu:

Januari 2015-Desember 2015

Tata cara:

1. Like facebook fanpage Penerbit Haru dan follow twitter @PenerbitHaru

2. Memiliki blog seperti blogspot, tumblr, kompasiana, wordpress (note Facebook tidak bisa)

3. Pasang banner ini di blog kamu. Banner harus ditautbalikkan ke postingan ini selama program ini berlangsung.

4. Membaca buku terbitan Haru dan membuat resensinya.

5. Memilih tingkat tantangan yang merupakan tingkatan #HaruSyndrome yang kamu derita:

Fase Primer : 1- 10 buku



Fase Sekunder : 11-20 buku



Fase Laten : 21-30 buku



Fase Tersier : >31 buku



6. Buku Haru yang dibaca boleh mana saja, juga boleh membaca ulang. Namun, HARUS membuat resensi baru yang dipost mulai Januari 2015

7. Wajib membuat post awal. Post awal adalah postingan yang berupa info bahwa sedang mengikuti ‘Tantangan Membaca Haru’ ini.

8. Mendaftar ke tantangan.haru@gmail.com dengan subyek [Tantangan Membaca Haru_Nama_Pilihan Fase]

Isi data berikut
Nama
Alamat
No hp
E-mail
Twitter
Facebook
Link blog post awal:

9. Pada akhir tahun, wajib membuat post akhir yang berisi kesan kalian saat mengikuti ‘Tantangan Membaca Haru’ beserta link resensi yang telah dibuat.

Hadiah:

1. Satu orang yang berhasil memenuhi target Fase Tersier akan mendapatkan:
-Uang Rp. 300.000
-Lima buah buku Haru yang terbit tahun 2016
-Piagam penghargaan

2. Semua yang berhasil memenuhi tingkat tantangan yang dipilih, akan mendapatkan piagam penghargaan.

3. Setiap 4 bulan sekali, akan dipilih 1 orang pemenang yang mendapatkan hadiah menarik dari kami. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada tanggal
-  11 April 2015
-  11 Agustus 2015
-  11 Desember 2015

Cinta Monyet-ku


Ini ceritaku 6 tahun lalu. Ketika masih duduk dikelas 3 SD. Bisa dibayangkan, betapa lugu dan polosnya anak-anak yang umurnya saja belum genap sepuluh tahun. Namun, realitanya, anak-anak umur segitu sudah mengenal cinta. Aih, mungkin bukan cinta sebenarnya. Cinta Monyet!

***

10 Juni 2008

Pagi itu, aku berangkat sekolah dengan mengenakan seragam merah-putih yang rapi. Tak lupa juga, kukenakan jilbab putihku dengan renda dan bunga-bunga dipinggirnya, makin mempercantik penampilanku. Sekolah masih sepi, hanya ada aku dan beberapa teman sekelasku yang sudah datang.

Setelah menaruh tas ku, aku duduk di depan kelas sambil menunggu teman-teman yang lain. Sambil memainkan ujung jilbabku, aku bernyanyi kecil. Ya, hobiku memang menyanyi.

Sesosok anak laki-laki lewat didepanku. Dia nampak menutupi wajahnya dengan buku dan berjalan agak menyamping, seolah menghindariku. Aku menikkan satu alis, bingung dengan kelakuan anak laki-laki itu. Anak laki-laki itupun akhirnya berlalu. Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi dan semua anak masuk ke kelas. Termasuk juga aku.

"Hai, Luna!" sapaku riang pada Luna, teman sebangku ku yang baru saja berangkat. Luna pun duduk lalu menaruh tas nya.

"Hai juga, Kinar," jawab Luna sambil tersenyum, "pr bahasa indonesia udah dikerjain?"

"Udah kok. Nih" ujarku sambil memperlihatkan buku tugasku pada Luna. Soal-soal sudah kubabat habis semalam-walaupun masih dibantu kak Ika-, "kalau kamu?"

"Udah juga dong! Luna kan anak rajin." Luna berkata dengan bangganya. Giginya yang berderet nampak rapi ketika ia tersenyum bangga.

"Eh lun, tadi pagi, waktu aku duduk di depan kelas, masa si Radit lewat sambil nutupin mukanya pake buku. Aneh kan?" tanyaku pada Luna.

"Hmm ... Mungkin dia malu, Nar"

"Malu? Malu kenapa?" aku heran. Apa yang dimaksud Luna barusan?

"Maksud aku, dia malu ketemu kamu. Radit suka sama kamu, Nar!"

Aku pun langsung membekap mulut Luna. Dia berkata sangat keras sehingga seluruh kelas bisa mendengarnya. Lantas saja pipiku bersemu merah. Kulihat, telinga Radit juga memerah mendengar perkataan Luna barusan. Aih, dasar Luna!

"Ciee Kinar malu ciee." Luna menggodaku. Huh!

"Biarin wlek!" aku menjulurkan lidahku. Ketika Luna hendak membalas ejekanku, guru Bahasa indonesia kami datang. Guru menyebalkan, huh.

11 Juni 2008

Suasana kelas pagi itu masih mencekam. Seperti biasa, aku menaruh tas ku dan duduk di depan kelas menunggu teman-teman yang lain datang. Dari kejauhan, nampak Radit tengah berjalan tergesa-gesa kearahku. Dia membawa sesuatu. Ketika sampai di tempatku duduk sekarang, ia menyerahkan kertas kecil yang tadi dibawanya.

"Ini. Buat kamu." ujar Radit dengan nada yang terdengar sangat grogi.

"Buat aku? Wah, makasih ya!"

Radit hanya tersenyum grogi, lalu segera bergegas masuk ke dalam kelas.

Kubaca isi kertas kecil tadi;

"Selamat ulang tahun, Kinar. Aku sebenernya udah lama suka sama kamu. Aku selalu malu kalau deket-deket kamu. Makanya itu aku selalu tutupin muka aku pake buku setiap lewat depan kamu."

Aku tercengang! Ternyata benar perkataan Luna kemarin, Radit suka padaku. Luna tiba-tiba datang, lalu merebut kertas kecil pemberian Radit tadi. Luna membacakannya dengan keras di depan kelas. Langsung kurebut kembali kertas itu. Dan seketika suasana kelas menjadi pecah.

"Ciee Radit suka Kinar ciee ..."

"Radit sama Kinar pacaran dong?"

"Eh emang boleh anak kecil main cinta-cintaan?"

Beberapa desas-desus oleh teman-temanku terdengeran bersliweran di telinga. Ku abaikan saja. Lantas, aku mendekati Radit yang sedari tadi hanya menundukkan wajahnya.

"Mulai sekarang, gak usah malu lagi setiap ketemu sama aku, oke? Aku juga suska kamu kok, kita kan teman," ujarku sambil tersenyum. Radit lantas ikut tersenyum. Kini, ia sudah berani menatap wajahku.

Radit nampak hendak mengambil sesuatu dari dalam tas nya. Sebuah bunga! Bunga yang dibuat dari kertas.

"Ini buat kamu. Aku beli di penjual mainan depan sekolah."

Ia menyerahkan bunga kertas tadi padaku, aku pun menerimanya.

"Terimakasih, Radit. Kamu memang teman yang baik!!"

Tak lama kemudian, seorang guru datang memasuki kelas kami. Aku beranjak pergi dari tempat duduk Radit. Dan setelah itu, kami jadi teman dekat hingga sekarang.

Air Laut yang Manis


Liburan sekolah telah tiba. Libur panjang selama 2 minggu ini disambut riang oleh Lyla. Selama liburan, ia tak perlu lagi bangun pagi. Ia bisa bangun siang, kapanpun ia mau! Maklum saja, Bunda Lyla selalu membatasi anaknya ketika hari-hari biasa. Namun, ketika hari libur seperti ini, Bunda Lyla membiarkan Lyla benar-benar menikmati liburannya tanpa membatasi Lyla.

Rencananya, hari ini Lyla beserta Ayah Bundanya akan liburan ke Pantai Ancol. Jaraknya memang tidak terlalu jauh, namun jika musim liburan seperti ini biasanya Ancol akan penuh sesak dipenuhi para wisatawan lain yang juga ingin berlibur disini.

"Lyla, kita liburan ke Bogor aja yuk? Disana udaranya sejuk. Mungkin hari ini Ancol akan penuh sesak. Mau, ya?" bujuk Ayah dengan lembut. Namun Lyla menggelengkan kepalanya. Ia tak ingin liburan ke Bogor.

"Hmm ... Bagaimana kalau kita liburan ke Kebun Binatang Ragunan? Nanti Lyla bisa lihat jerapah yang lehernya panjang banget!" kini ganti Bunda yang membujuk Lyla. Lyla sempat berfikir sejenak, namun akhirnya tetap menggelengkan kepala. Ia juga tak ingin liburan ke Ragunan.

"Pokoknya Lyla mau liburan ke Ancol!" Aya setengah berteriak, "Lyla mau main pasir di Ancol."

Dan akhirnya, mereka bergegas pergi ke Ancol, sebelum benar-benar penuh dan mereka tidak bisa berlibur dengan senang disana.

Sesampainya di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, mereka langsung bergegas menuju pantainya. Lyla berganti baju renang dan segera berlari ke tepian pantai. Awalnya Lyla hanya bermain pasir di tepian pantai saja. Namun lama-kelamaan Lyla semakin ke tengah.

Lyla berlari ketika ombak mengejarnya. Gulungan-gulungan ombak yang berbuih menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Namun tiba-tiba, ketika Lyla lengah, datanglah sebuah ombak yang lumayan besar menggulung badan mungil Lyla. Lyla pun gelagapan dan nampaknya ia tersedak air laut.

Uhukkk ... Uhukk ...,

Lyla terbatuk beberapa kali. Sang bunda yang tadinya hanya mengawasi dari pinggir langsung menyelamatkan sang putri. Lyla masih terbatuk akibat air laut yang mungkin tertelan olehnya.

"Lyla?! Lyla gapapa kan? Makanya jangan main terlalu ke tengah. Bahaya," ujar Bunda Lyla setengah panik. Ia langsung mendudukkan Lyla sambil menepuk pelan punggungnya agar air yang tertelan keluar.

Uhukk ... Uhukk ...,

Lyla memutuskan untuk menghentikan aktivitas berenangnya dan bergegas mandi.

Setelah selesai mandi dan berganti baju, Lyla melihat seorang pedagang es krim lewat menjajakan es krim yang menyegarkan itu. Ia pun merengek meminta untuk dibelikan es krim.

"Bun, Lyla mau es krim!"

"Sebentar. Bunda belikan dulu."

Lyla mendapatkan es krimnya. Es krim rasa strawberry yang lembut. Ia teringat akan sesuatu.

"Bun, tadi pas Lyla minum air laut, kok rasanya asin ya?" Lyla bertanya dengan muka yang penuh heran, "airnya dikasih garam ya Bun?"

Bunda tersenyum. Lalu dengan sabar ia menjawab pertanyaan Lyla barusan. "Air laut asin bukan karena dikasih garam, Lyla. Allah menciptakan laut dengan airnya yang asin,"

"Lalu?" Lyla menyimak perkataan Bundanya dengan seksama. Ia memperhatikan penuh sehingga sampai-sampai ia lupa dengan es krimnya.

"Lyla tahu, garam terbuat dari apa?"

Lyla hanya menggeleng sambil terus memperhatikan Bundanya.

"Garam itu terbuat dari air laut. Air laut ini nanti akan dijemur sampai terjadi penguapan oleh matahari. Setelah menguap, nah jadi deh butiran garam yang halus. Garam yang biasa Bunda pakai ketika memasak."

"Ooo ..." Lyla hanya ber-O ria, "lalu kenapa es krim Lyla ini rasanya sangat manis, Bun?"

"Karena es krimnya dikasih gula. Jadinya manis."

Lyla langsung bergegas ke pinggir pantai, lalu menumpahkan es krimnya.

"Kenapa es krimnya dibuang? Lyla nggak suka?"

"Suka kok. Kan biar air lautnya jadi manis, Bun. Kalau asin rasanya nggak enak!"

Bunda Lyla pun hanya tersenyum. Menahan geli akibat melihat tingkah anaknya tersebut.